Selasa, 29 April 2008

Aufklarung

Menelusuri Eksistensi Teori Kritis
Review buku dilema usaha manusia rasional
Oleh: Hersince Kristina Yosephania

Aufklarung demikian masa itu diberi nama. Masa dimana manusia mempertuhankan akal budinya diatas segalanya.Masa dimana manusia berusaha keluar dari kuasa diluar pengetahuan “mitos/takhayul”.Maka tidaklah mengherankan jika kemudian timbul pemberontakan-pemberontakan pada bidang ilmu pengetahuan termasuk filsafat.Akal budi mereposisi atas perannya yang selama ini hanya sekedar obyek untuk mengambil andil pula sebagai subyek.Merunut akar pertuhanan akal budi,sebenarnya tidak hanya pada abad 18.Lebih jauh dari masa itu yakni 2500 tahun yang lalu ketika manusia mencoba mencapai pengertian atas dirinya juga mulai ada rintisan atas mempertuhan akal budi.Karena pada esensinya manusia memang makhluk rasional.Statement inilah yang kemudian menjadi cikal bakal “horkheimer” berfikir agar bagaimana manusia mencapai kesadaran rasionalitasnya dan meninggalkan keirasionalitasannya dengan berfikir atas dirinya sendiri dan kemudian geliat fikir horkheimer inilah yang menjadi rintisan atas teori kritisnya.Teori kritis pun lahir atas kegagalan teori tradisionalnya Deskartes yang tidak mampu mencurigai dan mengkritisi perkembangan masyarakat sebagaimana harapan horkheimer.Teori tradisional memang terlalu mengeneralisasi pengetahuan.konsepnya yang umum tentang semua hal,terlalu sulit menjangkau kedalam persoalan dimasyarakat.Keberadaannya sebagai alat analisa untuk melihat fakta adalah secara obyektif dan lahiriah saja.sehingga ketajaman akan analisa persoalan tidak menelisik tajam.Sifat teori tradisional netral terhadap fakta diluar dirinya.dan cita-citanya universal systematic system.Kecenderungan teori tradisioanl lebih ideologis dimana kenetralannya justru menjadi kedok pelestarian keadaan yang ada,teori tradisional berfikir secara ahistoris,memisahkan antara teori dan praktis. Oleh sebab demikian Horkheimer beranggapan bahwa teori tradisional tidak mungkin menjadi teori emansipatoris.keberadaannya tak ubahnya seperti agama,dimana justru dalam kenetralannya,kerefleksifannya yang transendental ia justru membenarkan dan mendukung kondisi masyarakat yang tetap dalam kondisi keirrasionalitasannya.
Teori kritis ada untuk melepaskan masyarakat dari irrasionalitas tersebut.Teori yang dikembangkan untuk mencurigai dan mengkritisi masyarakat dan mengajak masyarakat untuk berfikir secara historis.Ekonomi masyarakat dengan mengambil fokus pada sistem nilai tukar adalah obyek kajian dalam teori kritis tersebut.Dimana kapitalisme liberal bergeser menjadi kapitalisme monopolis.Dan kritik ditujukan pada masyarakat yang mekanisme perekonomiaannya diatur oleh nilai tukar itu.Persoalannya kemudian,sejauh mana teori kritis mampu mempengaruhi kekuatan modal yang sangat dipertuhankan masyarakat saat teori kritis menjadi salah satu alat analisa dalam melihat masyarakat pada jaman ini?Selain itu juga terkait dengan persolan totalitas dalam teori kritisnya Horkheimer adalah bagaimana kekuatan berfikir yang kontradiktif dapat dijadikan sebagai kerangka berfikir. Teori kritis tidak bersedia menerima kategori –kategori perekonomian masyarakat,yakni:produktif,berguna,layak dan bernilai.yang menjadi kecurigaan lebih lanjut atas kategori tersebut adalah bahwasanya kategori tersebut telah ditentukan oleh golongan masyarakat tertentu,yakni pemilik modal.dewasa ini,kebanyakan orang remasuk para sarjana tidak mau lagi mempersoalkan atau memperdebatkan kategori produksi. Istilah masyarakat brengsek dan totalitas berulang-ulang digunakan oeh Horkheimer untuk menjelaskan kondisi dimana masyarakat bekerja tanpa dapat menikmati hasil dari pekarjaannya,mereka bekerja dengan digerakkan oleh kuasa modal diluar dirinya.demikian pula totalitas menjadi kata kunci untuk memahami teori kritis.Kelemahan dari totalitas adalah dia berjalan mekanis dan alamiah karena bentuk ekonomi dan budaya didalanya sudah tidak lagi dikuasai kehendak manusia sadar melainkan dikuasai modal.
Nuansa kontradiksi diciptakan sedemikian rupa dalam totalitas pada teori kritis ini.Termasuk pemaknaan atas konsep ego,jauh berbeda dengan teori tradisional dimana ego semata –mata kesadaran pada dirinya sendiri sehingga menganggap dirinya bebas padahal kebebasan dalam teori tradisional hanya pada tataran khayalan dan jauh dari kondisi masyarakat yang sebenarnya. Sementara konsep ego pada teori kritis adalah dimana ego bersifat materialis, yakni konsepnya didasarkan pada aktivitas individu yang dilaksanakan pada masyarakat historis(dimana totalitas dengan kerangka berfikir kontradiksi menghiasinya).
Horkheimer dalam mengutarakan konsepnya tentang teori kritis sangat kental dengan gaya berfikir hegelian-marxian.Dia menggunakan prinsip dialektikanya Hegel untuk memaknai situasi real dan untuk melihat masyarakat konkrit,ia menggunakan gaya berfikirnya Marx Marx muda sendiri sangat mengagumi pemikiran Hegel.Jadi jika untuk memahami gaya berfikir Hokheimer kita harus melirik Marx sementara untuk memahami marx sendiri kita tidak dapat menegasikan Hegel.Ada 3 unsur pemikiran hegel dalm filsafatnya ,yakni: pengetahuan absolut,filsafat sejarah dan negara,serta yang terakhir adalah dialektika sebagaimana Horkheimer gunakan pula sebagai unsur dalam teori kritisnya yang kemudia ia benturkan dengan pemikiran Marx tentang itu.Maka karena itulah ego berada dalam teori kritisnya pula,karena ego berada dalam ketegangan dialetika.Seperti Marx dalam kritik ideologi dimana ini menjadi cikal bakal teori kritis,Horkheimer juga menanyakan secara kritis fungsi ideologi dari kategori-kategori yang berlaku dalam masyarakat.Seperti Marx yang dalam kritik ekonomi politiknya yang mengideologi,Horkheimer juga menganalisa secara kritis masyarakat ekonomi jaman ini.Keprihatinan Horkheimer terhadap keirrasionalan masyarakat memang keprihatinan yang khas Marxian.

Tidak ada komentar: